Laman

Tanru Tedong, Dua Pitue, Sidrap

0

Posted by shalihuddin matti | Posted in | Posted on 5:29:00 PM


Asal Usul Nama Tanru Tedong

Jika mendengar kata tanru tedong , ingatan kita akan tertuju pada hewan domestik pedesaan berbadan besar yaitu kerbau (tedong). Bagi masyarakat pedesaan, kerbau sering digunakan untuk membajak sawah atau sebagai penghasil daging untuk dikonsumsi. Pembicaraan mengenai kerbau ini sangat erat kaitannya dengan asal usul nama daerah Tanru Tedong. 

Pada awal dijadikankannya wilayah ini sebagai pemukiman, daerah ini masih bernama “lekkoe” , dengan alasan karena berada pada titik pembelokan aliran Sungai Bila. Wilayah Lekkoe ini memang telah dihuni oleh penduduk, jauh sebelum kedatanan bangsa kolonial Belanda, dan kemudian secara berangsur-angsur menjadi sebuah pemukiman yang ramai setelah daerah ini mulai diduduki Belanda. Lekkoe merupakan wilayah kekuasaan dari Akkarungeng Otting.  Petta Otting memberi wewenang kepada Andi Palamampungan  untuk menjadi kepala wanua di daerah ini. Jika menelusuri lebih jauh mengenai asal usul nama daerah ini, maka dapat ditemukan bahwa pemberian nama Tanru Tedong mengandung makna negatif. 

Konon, Tanru Tedong (Lekkoe) pada masa itu sangat terkenal sebagai salah satu daerah yang paling rawan terjadi aksi perampokan. Sejak puluhan tahun yang lalu, daerah Tanru Tedong sudah merupakan jalur utama bagi warga dari wilayah bagian timur Sidenreng Rappang (Betao, Botto, Batu, Compong dan Bila) yang akan menuju ke kota, bahkan termasuk juga dari wilayah kabupaten lain, seperti; Wajo dan Luwu. Bagi para pedagang, untuk bisa sampai ke kota, jalur utama yang harus ditempuh yakni dengan melewati Tanru Tedong. Barang dagangan yang paling banyak diperdagangkan pada waktu itu adalah bahan-bahan pokok berupa; beras dan binatang ternak. Binatang ternak yang paling banyak diperdagangkan pada masa itu adalah kerbau. Kerbau inilah yang kemudian menjadi “awal cerita” dari asal usul nama daerah Tanru Tedong.     

Kerbau-kerbau yang dibawa oleh para pedagang untuk dijual ke kota , dirampas oleh perampok yang menghadang mereka di dekat pinggiran sungai di daerah Pakka Salo’, yang sekarang merupakan wilayah  desa Kalosi.  Kondisi pinggiran sungai yang pada waktu itu masih merupakan daerah rawa yang ditumbuhi semak belukar, seperti pohon nipa dan pohon-pohon besar lainnya, menjadi faktor utama yang memungkinkan sehingga di daerah ini sering terjadi penghadangan dan perampokan. Kerbau-kerbau hasil rampokan itu disembelih dan dikuliti di suatu tempat yang tidak jauh dari tempat mereka melakukan penghadangan. Untuk menghilangkan jejak, kulit kerbau yang telah disembelih dibuang ke daerah Kampung Baru (Taccimpo).  Bagian tanduk dan tulang-tulangnya dibiarkan berserakan di tempat penyembelihan. Konon, daging-daging kerbau hasil rampokan itulah yang kemudian dijual ke kota. Tanduk kerbau yang berserakan tadi suatu waktu ditemukan oleh para pemburu  yang kebetulan lewat di lokasi tersebut. 

Rombongan pemburu yang dipimpin oleh Andi Palamampungan kemudian membawa pulang tanduk-tanduk kerbau tersebut dan digantung pada pagar halaman dan pintu gerbang, bahkan tanduk yang berukuran besar dijadikan pajangan di bagian depan atap rumah (timpa’ laja’). Karena melihat banyaknya tanduk kerbau yang dipajang itu, maka warga setempat maupun orang-orang yang kebetulan lewat lebih mengenal daerah Lekkoe dengan nama Tanru Tedong.....

SALIHUDDIN MATTI'
to be continue....



video
a&F

"seonggok jagung" – W.S. Rendra

0

Posted by shalihuddin matti | Posted in | Posted on 4:56:00 PM

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar ………..
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja
Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.
Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :
“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”